Siswa Kecanduan Game Online, Dimana Peran Guru BK?

Siswa Kecanduan Game Online, Dimana Peran Guru BK?
repro.detik.com

Dimanakah peran guru BK agar peserta didik tidak terjerumus ke dalam alur negatif penggunaan gadget. Guru BK memiliki berbagai layanan, salah satunya memberikan bimbingan agar peserta didik bijak dalam menggunakan gadget.

Wawan (30 tahun), warga Bekasi mengalami gangguan mental. Bukan gila. Bukan pula depresi. Tangan dan jemarinya terus digerakkan dalam posisi seakan sedang bermain game online. Padahal di tangan Wawan sedang tidak ada gadget.

Tidak hanya memperlihatkan kondisi sedang fokus pada permainan game, Wawan juga tidak peduli pada lingkungan. Dia tidak menoleh atau menjawab ketika dipanggil. Wawan mengalami gangguan mental yang parah, diduga akibat kecanduan game online.

Ternyata, berdasarkan kasus yang dialami Wawan, game online tidak hanya merusak psikis, tapi juga menimbulkan efek negatif pada aspek motorik seseorang. Pada kasus Wawan, lelaki ini tidak bisa lagi mengontrol gerak tangan dan jemari. Demikian respon terhadap lingkungan. Wawan hanya“focus”pada game online.

Kasus Wawan adalah satu dari sekian banyak permasalahan yang timbul sebagai efek negatif kecanduan game online. Ibarat fenomena gunung es, sesungguhnya masih banyak “Wawan”lain yang sedang menderita gangguan. Gadget telah memakan korban.

Generasi muda, khususnya peserta didik adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terkena dampak negatif game online

Di tengah derasnya dampak negatif teknologi informasi, kampanye tentang kemajuan industri ini juga tidak kalah gaungnya. Dunia sekarang disebut sedang berada di era Revolusi Industri 4.0.

Di tengah situasi ini, gadget dan internet sudah menjadi kebutuhan hari-hari di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula di dunia pendidikan. Guru dan siswa bisa tertinggal jika tidak mengikuti perkembangan dalam bidang ini.

Akhirnya gadget dan internet menjadi buah simalakama di dunia pendidikan, khususnya bagi para siswa. Pada satu sisi, siswa dituntut untuk menguasa kemajuan IT, tapi di sini lain ada ketakutan mereka akan terpapar efek negatif internet, seperti kasus yang mendera Wawan.  

Kadang ada sekolah atau lembaga pendidikan yang memilih jalan pintas: melarang penggunaan smartphone di sekolah. Meski terkesan sangat melindungi, tapi sesungguhnya juga sedang terjadi pengekangan dalam kasus seperti ini. Siswa berpotensi mengalami ketertinggalan dari teman-teman mereka yang memiliki keleluasaan menggunakan Hp.

Di tengah dilema seperti ini, di situlah dibutuhkan peran guru BK. Mereka seharusnya berperan dalam membimbing siswa sehingga tidak terjerumus ke dalam alur negatif penggunaan gadget. Sudahkah guru BK diajak membicarakan masalah pelik seperti ini?[ana susanti]

 

Komentar

Loading...