Tentang Kami

Salam BK

Pembangunan pendidikan mencakup banyak sekali aspek, mulai dari kurikulum, proses pembelajaran, infrastruktur hingga output pendidikan itu sendiri. Maka itu, proses penyelenggaraannya pula pasti melibatkan banyak aktor seperti guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, aparat birokrasi, juga masyarakat.

Berbicara tentang output (lulusan) pendidikan, dengan sendirinya ikut berkaitan dengan bagaimana perencanaan dan aspek "proses mendidik" dilakukan. Harus digaris bawahi di sini: proses mendidik; bukan sebatas mengajar.

Mengajar boleh dipahami sebatas menyiapkan rencana pembelajaran dan melaksanakannya di depan kelas. Lebih kepada hal-hal yang bersifat prosedural. Tapi, melakukan proses mendidik bisa lebih dari itu. Ia bisa mencakup tindakan atau sikap tentang bagaimana seorang peserta didik disiapkan. Mungkin lebih tepatnya, bagaimana proses pendidikan itu menggali potensi dan bakat pada seorang individu yang menjadi peserta didik.

Oleh karena itu, menjadi sangat naif ketika pendidikan hanya dipandang sebagai sesuatu yang bersifat prosedural, bahkan seperti sebuah rutinitas biasa. Pandidikan harus diperlakukan lebih dalam lagi. Karena ia menyangkut upaya menggali, menemukan, dan mengantarkan peserta didik menjadi seorang insan dewasa dengan kesatuan integritas yang utuh, yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang ada dalam dirinya.

Proses itu harus dimulai sejak dini. Dan, harus dilakukan secara benar oleh tenaga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan. Di sekolah, peran ini dilakukan oleh Guru Bimbingan dan Konseling (BK).

Guru BK bukan guru mata pelajaran. Karena perspektif publik terlanjur memaknai pendidikan hanya sebatas persoalan "prosedural" seperti disinggung di atas, maka konsekuensinya, peran guru BK dalam banyak kasus, sering dipandang sebelah mata. Bukti yang mudah untuk dikemukakan di sini, coba lihat rasio guru BK di berbagai daerah. Banyak sekolah yang tidak memiliki guru BK. Peran mereka biasanya "dicangkokkan" kepada guru agama, PPKn atau guru olahraga.

Begitulah ironisnya kita menyikapi peran guru BK. Padahal di sisi lain, cara pandang demikian tidak jauh bedanya dengan menganggap sepela soal bagaimana menggali dan menemukan potensi pada diri seorang peserta didik. Itu baru satu aspek yang selama ini terabaikan. Banyak lagi hal-hal lain yang menjadi ranah tugas guru BK, seperti mendeteksi potensi "kenakalan" pada anak dan sebagainya.

Pembaca yang budiman,

"Posisi" guru BK -- secara umum -- seperti kami gambarkan tadi, menyebabkan mereka tidak memiliki peluang dan kesempatan yang sama dibanding guru bidang studi dalam berbagai hal, misalnya untuk mendapatkan pelatihan peningkatan kompetensi. Karena itu, guru BK harus memiliki inisiatif untuk melakukan pengembangan kapasitas, baik secara mandiri maupun melalui forum musyawarah guru BK (MGBK).

Portal wadahgurubk.com dimaksudkan sebagai media komunikasi para guru BK dan pemerhati pendidikan yang concern terhadap permasalahan pendidikan  secara umum dan aspek tumbuhkembang anak pada khususnya.  

Portal ini dibangun berlandaskan semangat itu; semangat pengabdian kepada profesi. Kami mendedikasikannya untuk kemajuan guru BK dan masa depan pendidikan yang lebih baik.

Sebagai sarana berbagi, laman ini dikelola secara profesional dengan dukungan jejaring BK di seluruh Indonesia, baik itu guru, dosen, maupun widyaiswara.

Tenaga expert dan tim kreatif kami memungkinkan sajian WADAHGURUBK selalu update dan menjawab kebutuhan sahabat-sahabat semua.

Salam BK.

Komentar

Loading...