Menepis Persepsi Miris Guru BK

Menepis Persepsi Miris Guru BK
Ilustrasi (foto: JP-News.id)
Oleh: Syarbaini Oesman

DALAM sebuah forum pertemuan guru-guru Bimbingan dan Konseling (BK), seorang pejabat (mungkin berseloroh) menyatakan pendapat rada sinis. “Enak jadi guru BK, tugasnya ringan. Kalau gak ada siswa bermasalah, duduk-duduk aja di ruangan guru.”

Pernyataan ini, tentu saja membuat guru BK yang mendengar menjadi merah kuping. Seorang diantara mereka langsung melancarkan protes. “Enak aja Bapak ngomong. Tugas kami bukan hanya menangani anak bermasalah … bla…bla ...” Urusannya jadi panjang.

Perdebatan di atas menjelaskankan realitas keseharian tentang bagaimana perspektif publik terhadap keberadaan guru BK. Banyak orang, bahkan pejabat Dinas Pendidikan, tidak memahami dengan benar tugas dan fungsi guru BK, setidaknya seperti dalam kasus di atas. Bagaimana lagi orang awam, ya?

Karena terbatasnya pemahaman tentang guru BK, juga banyak orang tua murid beranggapan, BK adalah tempat anak-anak bermasalah. Ketika orang tua murid dipanggil oleh guru BK, yang terbayang di benak mereka adalah bahwa anaknya sedang dalam masalah serius, sehingga dia harus segera dihadirkan ke sekolah.

Cara pandang yang keliru terhadap peran dan fungsi guru BK, secara linear tentu saja memberi efek kurang positif terhadap profesi ini. Misalnya, dalam sejumlah kasus, perhatian kepada guru BK sangat minim.

Di sisi lain, karena dianggap hanya sebatas “pemadam kebakaran”, peran BK di sekolah tidak disiapkan secara sungguh-sungguh. Banyak sekolah tidak memiliki guru ini. Perannya “cukup” digantikan oleh guru agama atau PPKN. Begitu miris.

Sesungguhnya, keprihatinan yang melanda profesi BK tidak hanya disebabkan oleh minimnya pemahamahan dari kalangan eksternal, tapi juga ikut diperburuk oleh kondisi yang ada pada diri guru itu sendiri. Harus diakui, disebabkan oleh berbagai faktor, masih ada guru BK yang belum optimal melaksanakan tugas. Mereka membiarkan diri mereka larut dalam rutinitas semu tanpa upaya untuk bangkit, minim kreativitas dan inovasi. Fakta inilah yang menyebabkan peran BK semakin termarginalkan. Padahal, banyak sekali tugas yang bisa dilakukan.

Seiring dengan semakin derasnya pengaruh teknologi informasi, guru BK tidak hanya menghadapi persoalan klasik seputar minat belajar, tapi juga berbagai permasalahan aktual sebagai ekses munculnya pengaruh negatif internet dan narkoba. Bagaimana menangani anak-anak yang terdampak kenakalan remaja, adalah juga bentuk-bentuk dinamika tugas guru BK kekinian.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang peran dan fungsi guru BK dalam layanan pendidikan di sekolah, ada baiknya disinggung sekilas tentang pengertian bimbingan dan konseling itu sendiri.

Ahli mendefinisikan, bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri sendiri dan lingkungan (Sertzer & Stone: 1971). Sedangkan konseling didefinisikan sebagai interaksi yang terjadi antara dua individu.  Masing-masing disebut konselor dan klien (konseli) yang terjadi dalam suasana profesional (Sertzer & Stone: 1974).

Banyak lagi teori seputar BK. Tapi pada prinsipnya, BK tidak terlepas dari layanan yang ditujukan untuk membantu para siswa menemukan jati dirinya, sehingga anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki.

Masyarakat awam, mungkin belum pernah mengetahui apa itu tugas guru BK. Mari kita lihat sejenak ruang lingkup tugas guru BK berikut ini.

Mengutip Mugiarso (2009:114), ada 10 tugas guru BK, yaitu:

1.      Memasyarakatkan kegiatan bimbingan dan konseling, 

2.      Merencanakan program bimbingan dan konseling, 

3.      Melaksanakan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling, 

4.      Melaksanakan layanan pada berbagai bidang bimbingan terhadap sejumlah siswa yang menjadi tanggung jawabnya, 

5.      Melaksanakan kegiatan pendukung layanan bimbingan dan konseling, 

6.      Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling, 

7.      Menganalisis hasil evaluasi, 

8.      Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis evaluasi, 

9.      Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling, dan 

10.  Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru pembimbing.

Jika melihat pendapat ahli di atas, tugas guru BK tidak hanya sebatas menangani anak bermasalah sebagai mana persepsi segelintir orang. Guru BK memiliki seabrek pekerjaan, mulai dari menyusun perencanaan hingga evaluasi.

Belakangan, juga telah dikeluarkan sebuah kebijakan baru bahwa guru BK harus melakukan tatap muka selama 2 jam dalam seminggu. Ini menunjukkan bahwa peran guru BK merupakan tugas penting dalam rangka menghasilkan lulusan pendidikan sesuai dengan minat dan potensi anak. Sehingga, Indonesia tidak lagi memproduksi lulusan sekolah yang tidak mengenal siapa dirinya, karena mereka sekolah bukan karena didasari minat sendiri tetapi karena keinginan orang tua atau ikut-ikutan.

Mulai sekarang harus diluruskan pemahaman, bahwa layanan BK tidak ditujukan untuk anak bermasalah saja. Anak pintar dan anak baik, pun membutuhkan layanan BK dalam rangka mereka mendapatkan pencerahan tentang program apa yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Jika tidak, anak baik dan pintar, bisa saja tergelincir ketika terpapar oleh pengaruh teman atau orang lain yang dikaguminya.

Agar peran BK tidak lagi terpinggirkan, guru BK harus melakukan sesuatu dari sekarang. Guru BK harus aktif melakukan aktualisasi diri melalui berbagai cara, apakah secara mandiri dengan banyak membaca buku atau mengaktifkan pertemuan antara sesama guru BK melalui forum MGBK.

Guru juga dapat melakukan inovasi pada layanan di sekolah, misalnya dengan menciptakan sendiri hal-hal baru dengan dukungan sekolah. Bagaimana menghidupkan suasana layanan BK di era internet dengan melakukan layanan yang didukung IT, ini barang kali menjadi sebuah tantangan yang menarik untuk dicoba.[]

Drs. Syarbaini Oesman, M.Si;  Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh wilayah Aceh Barat Daya

Email: ben.nirbaya@gmail.com

Komentar

Loading...