Menyelamatkan Siswa Slow Learners dengan Lesson Study / Co-Inquiry

Menyelamatkan Siswa <i>Slow Learners</i> dengan <i>Lesson Study / Co-Inquiry</i>
Suasana kelas guru-guru peserta program Short Course di Jepang

Oleh:  Kyky Syafredy  

 

Lesson study dari Prof Shibata (dosen di Universitas Nagoya, Jepang) dan Arif Hidayat, PhD.Ed (dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) saat mengikuti pelatihan guru di Jepang pada 18 Maret 2019, mengembalikan memori saya ke tahun 2013.

Saat itu saya menjadi guru model untuk melaksanakan lesson study di SMA Negeri 1 Langsa. Dan, sekarang saya baru menyadari bahwa lesson study itu sangat penting untuk dilakukan di sekolah, supaya guru itu menjadi skill full.

Namun, tuntutan konten materi pelajaran yang banyak dan alokasi waktu yang kurang membuat guru mengarahkan pembelajaran siswa ke memorizing yang berorientasi pada tes bukan active learning. Menurut Prof Shibata, memang tidak mudah untuk mengubah pembelajaran ke pola active learning. Meskipun Pemerintah menginstruksikan untuk melakukan pembelajaran berbasis active learning, namun sebenarnya guru enggan melakukan pembelajarannya.

Di sekolah, ada guru yang memiliki lima macam pengalaman, sepuluh, dua puluh, dan bahkan tiga puluh tahun, merasa sudah tahu cara mengajar, namun masih ada keraguan apakah sudah memahami bagaimana cara mengajar. Masih ragu apa yang bermanfaat untuk siswa. Nah, keraguan inilah yang membuat guru enggan berubah dan kembali ke pembelajaran memorizing.

Mengubah pembelajaran menjadi active learning memang tidak mudah. Namun, guru harus punya keinginan di hati untuk melakukannya sendiri. Guru bisa memulai dengan pembelajaran yang sederhana, memikirkan, dan merancang pembelajaran yang menyenangkan. Ini akan menarik siswa untuk menyukai pembelajaran.

Mengawali dengan konsep dasar atau materi esensi yang disampaikan dengan sungguh-sungguh, maka selanjutnya siswa akan mudah mengembangkan pengetahuan yang lebih luas. Saat siswa sudah paham, maka selanjutnya siswa sendiri yang akan membangun pemahaman sendiri. Yang terpenting pegetahuan dasarnya sudah terbentuk. Sehingga, jika ada siswa menemukan kasus lain, nantinya siswa yang akan menemukan sendiri pengetahuan itu dari hasil membaca, melihat di youtube, dan mencari informasi dari ahli lain, misalnya.

Pada umumnya, siswa yang slow learners jumlahnya paling banyak di kelas. Dan, guru menyadari siswa tersebut kurang nilainya, kurang motivasi belajarnya, dan kurang pengetahuan serta kurang dukungan keluarga. Biasanya, dalam kasus seperti ini, guru cenderung menyalahkan siswa. Sebenarnya ini adalah masalah dan tanggung jawab guru.

Menurut Arif Hidayat, Ph.D, untuk bisa go far together dengan siswa yang high learners, guru harus melakukan pembelajaran otentik yang dimulai dari relasi mendengarkan dengan dialog ke arah pembelajaran learning center agar terjadi jumping thinking pada siswa. Berdialog secara learning center di sini berarti guru mengubah diirinya dari pengajar fakta menjadi pembelajar fakta, mendengarkan siswa secara aktif, mengamati pembelajaran, serta melakukan inkuiri andragogi untuk mengetahui karakteristik siswa.

Pentingnya membentuk komunitas guru melalui lesson study membuat guru sadar dan banyak hal yang bisa dimengerti, baik media pembelajaran, memikirkan pertanyaan inkuri, merencanakan diskusi dan presentasi siswa, serta jika bersama maka lebih banyak yang bisa dilakukan.

Yang diobservasi saat pelaksanaan lesson study, selain dialog guru dan siswa, juga apa yang ditulis guru dan siswa. Yaitu, mengobservasi secara mendalam siswa yang bermasalah (motivasi kurang, bermasalah dalam, dan pengetahuan yang kurang).  Bukan materi pembelajarannya saja, namun sampai hal detail dari membuka buku, kata-katanya, berbisik, atau ekspresi belajarnya. Selanjutnya, hasil dialog guru dan siswa dibuat dalam bentuk transkrip, dianalsis secara kualitatif maupun kuantitaif untuk diketahui apakah pembelajan itu otentik atau tidak.

Jika kita tidak mau mengubah pembelajaran dari memorizing ke active learning, maka saat siswa sudah lulus, kita tidak bisa lagi memberikan pembelajaran. Namun, jika kita sudah mendidiknya dengan cara pandang secara pengetahuan, maka siswa akan berpikir secara pengetahuan atau berpikir inkuri. Berpikir inkuri itu merupakan cara pandang ideal.*

Kyky Syafredy adalah guru SMAN 1 Langsa, Aceh. Peserta Program Short Course ke Jepang yang dilaksanakan Kemendikbud tahun 2019

Komentar

Loading...