ARTIKEL

Mungkinkah Peran Guru BK Digantikan Oleh Komputer?

Mungkinkah Peran Guru BK Digantikan Oleh Komputer?
Robot di depan kelas (foto: Zenius)

Tulisan Syamsul Bahri, seorang guru Madrasah Aliyah di Banda Aceh di media lokal berpengaruh di sana, penting dicermati. Ia memilih judul yang menggelitik: Pendidikan Ala Gojek.

Pemikiran Syamsul tentu saja sedang menyinggung kepemimpinan Mendikbud Nadiem Makarim yang terlanjur populer dengan Gojek. Ia menceritakan keberhasilan lulusan Harvard University itu mengembangkan sayap bisnis dengan platform Gojek, yang awal mula hanya khusus untuk transportasi (GoRide), kemudian merambah Gofood, GoPay, GoSend, GoMassage, GoShop, GoFitness, dan go-go lainnya. 

Syamsul kemudian berandai-andai, jika persoalan pendidikan mengadopsi prinsip Gojek, maka platform digitalnya bisa jadi akan akan lahir GoEd (Go-Education), GoSchool, GoEx (Go-Examination), GoGrad (Go- Graduation), dan lain-lain.

Pikiran liar Syamsul kemudian membayangkan bagaimana jika pendidikan dikelola dengan sistem komputer. “Dibuatlah satu aplikasi pintar yang menjangkau setiap kreativitas siswa. Sejak masuk PAUD, siswa dideteksi kemampuan berdasarkan finger print dan darah. Analisa sidik jari dipadukan dengan keadaan darah (terserah mau disebut apa) kemudian dipetakan kemampuan personal, bakat, dan talenta. Di situ akan terdeteksi kemampuan seorang anak. Kemampuan ini kemudian dibina terus-menerus (gen cerdas),” ia berimajinasi.

Komputer (robot) dengan kapasitas memori yang besar bisa dirancang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya kompleks sekalipun. Banyak robot mutakhir yang tidak hanya memiliki bentuk fisik sangat menyerupai manusia, tapi juga disiapkan kemampuan berkomunikasi dan memiliki elastsitas tubuh yang benar-benar mirip manusia.

Jika robot demikian ditempatkan di depan kelas, siswa tinggal memilih materi pelajaran sesuai keinginan, berdasarkan kemampuan yang telah dilatih sejak sekolah dasar. Misalnya hari ini, seorang siswa memilih belajar Matematika, ia cukup meng-klik Matematika, lalu memilih (menu) misalnya subpokok bahasan yang diperlukan. Demikian seterusnya.

Sampai di sini, muncul pertanyaan. Apakah mungkin peran konseling oleh guru BK juga dapat digantikan oleh komputer? Ini yang menarik untuk dibahas, dicermati.

Revolusi Industri 4.0 yang disebut juga era disrupsi adalah saat dimana banyak pekerjaan mulai digantikan oleh mesin (komputer). Mall dan supermarket di kota-kota maju mulai mengurangi jumlah karyawan karena posisi mereka cukup digantikan oleh mesin.

Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat perulangan sangat besar kemungkinannya untuk digantikan oleh robot, bahkan profesi pengacara juga demikian.

Setidaknya ada tujuh jenis pekerjaan yang segera digantikan oleh robot, yaitu analis keuangan, sopir, telemarketing dan asisten costumer service. Selain itu, buruh bangunan dan tenaga kesehatan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak membutuhkan analisis dan bersifat perulangan. Karena itu mudah dirancang untuk dilakukan oleh robot.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengindikasikan terdapat beberapa keterampilan manusia yang tidak mudah digantikan oleh mesin, misalnya empati, kreativitas, dan keahlian analitis atas masalah yang bersifat kompleks.

Oleh karena itu, agar menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul di era teknologi saat ini, individu perlu mengasah kemampuan tersebut dengan terus memanfaatkan perkembangan teknologi.

Revolusi industri 4.0 bisa men-disrupt, merusak atau menghancurkan lapangan kerja yang selama ini dilakukan oleh manusia. Lapangan kerja yang bersifat manual, repetitif sangat mudah diganti oleh robot dan terkena dampak otomatisasi.

Pendekatan pendidikan yang hanya memfokuskan pada pengembangan IQ (intelligence quotient) anak didik saja tanpa mengasah kemampuan EI (emotional intelligence) tidak lagi relevan saat ini dan di masa depan.

Ilmu yang sifatnya memorizing, menghafal akan sangat mudah digantikan oleh artificial intelligence. Sekarang ini robot IQ-nya bisa mencapai 700 bahkan sekarang sudah 70.000. Sedangkan manusia dengan IQ 150 sudah dianggap jenius.

Jadi, jika harus berkompetisi dengan robot dari sisi IQ, maka kemungkinan manusia akan dikalahkan. Oleh karena itu, proses pembelajaran dan peran guru harus mengasah keahlian yang tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga mengasah kepekaan, rasa, dan kreativitas.

Guru BK, dalam melaksanakan pekerjaannya, harus menggabungkan segala keahlian tersebut. Dengan demikian, guru BK dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks dan rumit yang memerlukan penanganan tidak hanya mengandalkan kecerdasan tetapi juga empati dan inovasi. Dengan demikian, perannya tidak dapat digantikan oleh robot.

Drs Syarbaini Oesman M.Si ; Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya. Email: ben.nirbaya@gmail.com

Komentar

Loading...