Pendidikan Abad 21: Mengubah Orientasi dari Menghafal ke Berpikir

Pendidikan Abad 21: Mengubah Orientasi dari Menghafal ke Berpikir
suasana di ruang kelas Finlandia

Dalam pidato sangat fenomenal Mendikbud Nadiem Makarim pada peringatan Hari Guru 2019, ia menitipkan pesan singkat: lakukan perubahan di kelas. Apa yang harus dilakukan guru menyikapi “perintah” tersebut?

Mungkin ini bukan hal mudah. Apa lagi bagi sebagian mereka yang telah merasa sangat betah di area comfort zone. Ajakan perubahan menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan.

Jika kita mau mengubah pola pikir sedikit saja, sebenarnya tidaklah sulit melakukan perubahan. Kami ingin berbagi informasi dari pengalaman berinteraksi dengan peserta Simposium Guru IPA yang diselenggarakan oleh lembaga PPPPTK IPA Bandung, 25-28 November 2019.

Sebagaimana diketahui, konsep pendidikan abad 21 memiliki paradigma yang sama sekali berbeda dengan kekeliruan yang telah berlangsung sejak lama. Pola pendidikan masa kini menerapkan gerakan perubahan pola mengajar dari Memorizing (menghafal) ke Thinking (berpikir). Ini menjadi modal dasar pembentuk keterampilan abad 21.

Tuntutan life skill abad 21 pada siswa harus menggugah semangat guru untuk menerapkan pola pembelajaran abad 21. Yakni, pembelajaran berbasis inkuiri dimana peserta didik dilatih untuk menemukan konsep atau mengkonstruksi ilmu sendiri. Belajar melakukan apa yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam menemukan teori.

Teori atau konsep yang diperoleh siswa berdasarkan penyelidikannya sendiri ini jika dilakukan terus-menerus akan menyebabkan siswa untuk berpikir runut dari level yang rendah hingga tinggi, diawali dengan pola pengamatan, memilah-milah data, mengkorelasikan antardata, dan melakukan prediksi.

Kemungkinan-kemungkinan jika begini akan begitu, melakukan uji coba terhadap apa yang diprediksi untuk membuktikan kebenaran hasil prediksi atau membuktikan rasa keingintahuannya. Kemudian menarik kesimpulan, jika sesuai maka prediksi diterima, jika tidak maka ia mencari alasan mengapa hasil yang didapat melenceng dari prediksi. Kesimpulan dari ujicoba akan melahirkan konsep. Pengalaman inilah kemudian yang akan dibawa ke arah metakognitif. Jika konsep ini diterapkan pada situasi a, b, dan c apakah akan sama hasilnya? Bagaimana jika....ungkapan sampai pada “bagaimana jika” akan membuat siswa berpikir lebih luas.

Dan jawaban dari “bagaimana jika” akan melahirkan hipotesis berikutnya yang cakupannya lebih luas dibanding hipotesis yang pertama tadi. Wawasan anak akan terbuka. Nah, pola ini jika terus-menerus dilakukan bakal melahirkan pelajar yang memilki kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Di tengah arus informasi yang deras saat ini, siswa akan berpikir kritis terhadap fenomena apapun yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Hal ini sejalan pula dengan amanah Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang menyatakan, bahwa selain 4Cs yang sering dikenal di kalangan guru yakni Critical thinking, Creative, Collaboration and Communication ada pula 2Csi, yakni Computational Logic (berpikir logis/ komputasi) dan Compassion (kasih sayang).

Pada Simposium Guru IPA, kepala PPPPTK IPA Enang Ahmadi S.Pd, M.Pd mengatakan, IPA bukan hanya sekedar bermakna Ilmu Pengetahuan Alam namun juga bermakna Integritas Peduli dan Amanah. Ia lantas memperkenalkan Salam IPA sebagai tagline bagi peserta simposium.

Salam IPA menyuarakan 3 kata pembentuk karakter positif bagi pribadi seseorang. Integritas bermakna pemberian standar maksimal pada pekerjaan yang dilakoni. Integritas bermakna utuh/satu antara perbuatan dan perkataan, integritas juga bermakna jujur dan peduli. Ini menjadi hal yang krusial. Peduli pada sesama manusia dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Fenomena sains yang berada di sekitar manusia dijadikan solusi bagi seluruh permasalahan yang dihadapi umat manusia. Lewat sains manusia menciptakan teknologi untuk membantu menyelesaikan semua permasalahan yang ada, lewat sains dan teknologi manusia berinovasi demi kemudahan kehidupan manusia.

Generasi Z (6-24 tahun) dan generasi α (dibawah 6 tahun) yang saat ini duduk di bangku sekolah merupakan aset berharga bagi Indonesia. Bonus demografi di tahun 2030 diharapkan mampu melahirkan keuntungan bagi bangsa Indonesia.

Amanah dalam menjalankan tugas dan pekerjaan, baik oleh guru maupun siswa. Amanah merupakan karakter mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Amanah berarti mengemban tugas yang dipercayakan dengan sebenar-benarnya. Tugas manusia di bumi menjadi khalifah menjadi pemimpin bagi makhluk dan alam di bumi. Maka sudah sepatutnya seorang pemimpin bersifat amanah. Yakni menjaga keberlangsungan hidup manusia dan alam sekitar sehingga menjadi seseorang yang bermanfaat. Mencintai sesama manusia dan alam sekitar.

Sebagai contoh perilaku menjaga lingkungan dan tidak merusak alam adalah tidak membuang sampah sembarangan, meminimalisir penggunaan plastik karena proses degradasi/ penguraian plastik di alam membutuhkan waktu yang sangat lama, menjaga hutan demi keberlangsungan oksigen di alam. Tidak melakukan eksploitasi berlebihan terhadap hasil alam, baik berupa hasil hutan, pertambangan maupun kelautan.

Perlu regulasi yang akan mengatur keberlangsungan sumber daya tersebut. Menjaga keberlangsungan atau daya dukung alam, menciptakan harmonisasi antara manusia dan alam sekitarnya. Permasalahan justru  muncul jika equilibrium (kesetimbangan) antara manuisa dan alam berubah. Ranah ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya.

Resonansi salam IPA yang digetarkan dalam simposium itu diharapkan mampu mengerakkan semua guru, bukan hanya guru IPA. Gerakan itu hendaknya menjadi spirit untuk melaksanakan instruksi Pak Menteri, melakukan perubahan di kelas!

* Penulis adalah Duta Sains P4TK IPA Kemdikbud, saat ini bertugas sebagai guru Biologi SMAN Modal Bangsa, Aceh

Komentar

Loading...